Minggu, 07 Januari 2018

Maklumat Kaum Jomblo

Bagi jomblo, “Ente kapan nikah Tong?” (sebuah pertanyaan dari seorang kakek, yang sedang asyik bermain catur sambil duduk jigrang dengan tangan kiri menjepit sebatang kretek itu) adalah sebuah pertanyaan yang terus hadir (paling tidak bukan hanya dari satu-dua orang), meski jawabannya tetap lah misteri Ilahi. Pertanyaan tersebut tetap misteri, bak “Man Rabbuka?” kala Munkar dan Nakir datang menyapa satu-persatu orang. Mengapa demikian?

Meskipun ada Mbah Modin yang “nalkin”. Dengan gamblang memberi semacam contekan “he Fulan, tat kala ada dua makhluk yang menghampirimu, jangan ragu dan gentar. Mereka adalah makhluk Allah. Mereka lah Munkar dan Nakir....”. Namun, tetaplah amal dan perbuatan yang menentukan jawabannya!
"Layaknya jomblo. Betapa pun, banyak teman yang mencoba mencomblangi, sekadar iseng gojlok, atau mungkin memberi nomor para jomblo lawan jenis. Usaha itu tetap akan menjadi dunia luar, yang terpisah dari dimensi ke-jomblo-an. Brow! Menjadi jomblo sejati, dalam himpitan arus pernikahan itu tidak mudah. Beban moril, mental, fisik, ekonomi bahkan spiritual terpadu dalam satu bejana yang begitu berat. Yang jelas, berat banget Brow."


Beban Derita Jomblo

Lu pasti tahu, menjadi anak yang berbakti pada orang tua itu wajib hukumnya. Terus, macam mana bisa berbakti, jika orang tua sudah minta cucu, Brow?  Inilah salah satu beban moril yang harus ditanggung. Dan tentu, sejatinya jomblo pun ingin berbakti. Tentang beban mental. Mereka yang baru saja sukses melepas masa lajangnya. Baru kinyis-kinyis atau bahkan yang masih duduk di “kuwade” sudah langsung menyerang. Mengajukan pertanyaan yang sama persis dengan pertanyaan undangan lain yang hadir, “Lu kapan nyusul, Tong?”. Apa coba yang mendasari pertanyaan mereka menjadi sama, jika bukan telah direncanakan? Semacam settingan isu politik untuk menggalang kepercayaan publik, lah.

Ada lagi, mereka yang baru nikah atau mungkin yang sudah kawakan. Dengan bangga mengingatkan, “Mblo, jangan lupa ini malam jum’at, waktunya membunuh kafir”. Apa pentingnya coba? Jangankan malam jum'at, malam minggu saja kaum jomblo sering lupa. Meskipun ada juga yang sesekali berdo’a, “semoga hujan selalu turun di malam minggu demi mengusir sepi dalam kesendirian ini”. Atau mungkin sebagian lainnya mengisi kesibukan dengan pencat-pencet gadget, mungkin pula scroll Wall Facebook (sekadar berbagi jempol) dari yang paling atas ke bawah tanpa henti. Tragis kan!

Berlanjut ke beban fisik. Usaha mati-matian membawa dua helm dalam satu motor, dengan tujuan mengantar target ke sekolah, kerja, atau mungkin kuliah, dan berpegang teguh pada risalah “tresno iku jalaran soko ngeterno”. Tetap saja tidak berhasil. Capek kan? Belum ketika musim penghujan. Tentu flue akan menjadi langganan.

Sekarang pada beban ekonomi. Kerja keras atau merengek pada orang tua agar kebutuhan kuota internet terpenuhi adalah salah satunya. Ya, kuota lah yang mampu menghidupi dunia chating jomblo. Berbagai akun sosmed yang menawarkan perkenalan tentu menjadi sekian koleksi wajib. Dan pastinya, itu membutuhkan duit untuk membeli kuota.

Terakhir pada beban spiritual. Amalan-amalan do’a, mantra atau mungkin ritual-ritual, dan puasa sengaja diijazahkan. Berbagai usaha spiritual  yang begitu mistis syaratnya, juga diusulkan. Rapalan mantra Jaran Goyang hingga Semar Mesem diminta dihafalkan. Memperkenalkan berbagai dukun hingga ahli pelet, pula. Apa coba tujuan semua itu? jika bukan menambah beban derita untuk jomblo.

Masih adalagi sebenarnya Brow, dan inilah beban yang paling pamungkas.  Beban BIOLOGIS. Untuk urusan satu ini, lu pasti tahu sendiri lah Brow tanpa kami  ceritakan.

Yang jelas, menjadi jomblo sejati adalah sebuah fitrah perjuangan. Beban perjuangan jasmaniah hingga rohaniah.  Maka berhentilah membully jomblo! 
Baca Juga : Gus Nur dan Upaya Menyudahi Lakon Jomblo

Jumat, 05 Januari 2018

Gus Nur dan Upaya Menyudahi Lakon Jomblo

"Genda'anku akeh, ono limo, seng siap tak rabi ono papat"

Pernyataan gamblang, cetoh weloh-weloh semacam ini terdengar begitu greget, penuh energi dan sangat memotivasi. Laksana oase, sungguh teduh nan menyejukkan. Apa pasal? Genda'an (Jawa: Perempuan Lain/Simpanan) tiada lain ialah perkara langka, terkhusus bagi penyandang tuna asmara -panggilan kehormatan untuk Jomblo- dimanapun berada, yang -baik kebetulan atau tidak- dengar penggalan pernyataan keren tersebut. Jangankan lima, bisa menggendak satu kaum hawa saja, dibutuhkan ikhtyar dan perjuangan berdarah-darah, belum lagi resiko menghadapi kenyataan pahit, ditolak atau yang lebih mengharukan lainnya. Duhhh.... Sungguh sempurna karir Gendak-Menggendak belio.

Ialah Gus Nur, sosok di balik mencuatnya teks (baca: kalimat) "suci" tersebut. Pernyataan yang terunggah di kanal Media Oposisi tertanggal 16 Desember tahun ini, sontak menyingkap tabir kepalsuan yang selama ini tertutup rapat atas pengharapan semu bagi mayoritas para tuna asmara. Apa itu? Tiada lain keberhasilan belio merangkul kelima Genda'annya. Data dari ini belum termasuk deret antri perempuan-perempuan lain yang menyatakan siap untuk digendak-kawininya, lho.
Dalam pada itu, publik mulai familiar dengan kelebihan-kelebihan belio lainnya. Nama besar belio dengan bubuhan "Gus" di depan, kian menguatkan opini publik untuk berhati-hati alias tidak serampangan meragu atas keilmuannya. Justeru kontras, andai, ya, andai publik belum yakin kalau belio mahir mengaji (kemampuan mengakses literatur klasik/kitab kuning), namun di lain sisi sudah tak terhitung majelis pengajian hingga orkesta dan stand up rutin belio datangi. Bukan sebagai peserta atau pendengar, namun Pemimpin langsung forum-majelis itu. Kuerenn, Kan!!!
Masih segar dalam ingatan, betapa gagahnya belio saat berorasi di acara reuni tempo lalu, dengan dihadiri jutaan umat, semaraknya acara mengalihkan Aku untuk fokus pada satu ungkapan bernas yang meluncur dari bibir seksinya, "Matamu picek, Cuk", tegasnya. Pada poin ini, perlu dicatat, keberanian yang berpadu dengan ketawadhuan belio terbukti menyamai kualitas Sujiwo Tejo hingga Cak Nun. Dua tokoh ini, dikenal publik biasa melontarkan istilah "Cuk" pada beberapa kesempatan.
Sembari diikuti rentetat kalimat dikte ditujukan pada pak Menag dan tokoh-tokoh lain. Subhanallah... dalam balutan busana serba putih, yang merupakan manifestasi simbol kebersihan dan kesucian, dalam diri belio tanpa gentar, tanpa ragu, lantang meluapkan ekspresi penuh takjub dengan umpatan ungkapan "Cuk" dalam atmosfir peringatan Maulidul Rasul Muhammad Saw., yang tentu saja semakin menambah khidmat suasana.
Terlebih, kehadiran belio dan jutaan umat berjubel dalam forum itu murni atas kesadaran sebagai muslim, bukan faktor paksaan, bukan imingan uang (bayaran), bukan giringan politik. Sekali lagi MURNI KESADARAN sebagai muslim. Tentu, bagi mereka yang tidak hadir, kesadarannya sebagai muslim masih tersumpal kegelapan dan jauh dari ketercerahan. Lagi-lagi Gus Nur sukses membuat tuna asmara terpukau. Emejing...!

Baca juga: Misi Moral yang Terabaikan: Refleksi Peringatan Maulid Nabi

Saudara sekalian.
Malam ini minggu malam, sekaligus malam penghabisan 2017. Belajar dari Gus Nur, ada sedikitnya 3 poin untuk permenungan bersama dalam rangka refleksi menuju 2018 dengan senyum merona.
Pertama. Mengenalkan diri dengan membubuhkan Gelar pada nama; Gus, Kanjeng, Lorah, Ajengan, Paduka, dst merupakan keniscayaan. Ini penting, satu misal Sugi Nur Raharja jadi Gus Nur, Dwi Yanto jadi Gus Dwi, Mukti Aziz jadi Kanjeng Mukti, Aris Lukman Hakim jadi Tengku Lukman dan lain semisalnya. Ini sangat praktis, untuk mencobanya bisa sebagai langkah awal diterapkan pada akun-akun Medsosmu, dalam hitungan menit saja kamu akan merasakan perubahan signifikan.
Kedua. Tingkatkan percaya diri semaksimal mungkin, apapun kondisimu. Nah, Ini sudah diterapkan banyak orang, dan meraup apresiasi cemerlang. Bagaimana tidak, pengakuan yang gamblang terkait ketidak-mampuan membaca kitab, misal namun dilandasi kepercayaan diri maksimal, toh bisa sukses sebagaimana Gus Nur di atas, diundang mengisi pengajian di berbagai tempat.
Ketiga. Membiasakan diri misuh atau mengumpat di tiap kesempatan. Ini juga peting, sebagai penanda kejantanan seorang lelaki. Pilihlah kata atau kalimat misuh terbaik yang kamu kuasai. Tahap terakhir ini butuh latihan ekstra, sebab tidak sedikit orang yang selip lidahnya saat mengawali misuh, karenanya hukum bacaan dan makhorijul huruf dalam misuh harus betul-betul diperhatikan, sebab kalimah misuh yang fals akan terdengar sebagai gurau belaka, tidak serius, hambar, dan cenderung absurd. Tentu, perempuan tidak menyukai karakter semacam ini.
Demikian renungan akhir tahun ini. Semoga Berkah. Selamat mengakhiri 2017. Dan, jangan sepaneng, enggeh Gus.!