"Genda'anku akeh, ono limo, seng siap tak rabi ono papat"
Ialah Gus Nur, sosok di balik mencuatnya teks (baca: kalimat) "suci" tersebut. Pernyataan yang terunggah di kanal Media Oposisi tertanggal 16 Desember tahun ini, sontak menyingkap tabir kepalsuan yang selama ini tertutup rapat atas pengharapan semu bagi mayoritas para tuna asmara. Apa itu? Tiada lain keberhasilan belio merangkul kelima Genda'annya. Data dari ini belum termasuk deret antri perempuan-perempuan lain yang menyatakan siap untuk digendak-kawininya, lho.
Dalam pada itu, publik mulai familiar dengan kelebihan-kelebihan belio lainnya. Nama besar belio dengan bubuhan "Gus" di depan, kian menguatkan opini publik untuk berhati-hati alias tidak serampangan meragu atas keilmuannya. Justeru kontras, andai, ya, andai publik belum yakin kalau belio mahir mengaji (kemampuan mengakses literatur klasik/kitab kuning), namun di lain sisi sudah tak terhitung majelis pengajian hingga orkesta dan stand up rutin belio datangi. Bukan sebagai peserta atau pendengar, namun Pemimpin langsung forum-majelis itu. Kuerenn, Kan!!!
Masih segar dalam ingatan, betapa gagahnya belio saat berorasi di acara reuni tempo lalu, dengan dihadiri jutaan umat, semaraknya acara mengalihkan Aku untuk fokus pada satu ungkapan bernas yang meluncur dari bibir seksinya, "Matamu picek, Cuk", tegasnya. Pada poin ini, perlu dicatat, keberanian yang berpadu dengan ketawadhuan belio terbukti menyamai kualitas Sujiwo Tejo hingga Cak Nun. Dua tokoh ini, dikenal publik biasa melontarkan istilah "Cuk" pada beberapa kesempatan.
Sembari diikuti rentetat kalimat dikte ditujukan pada pak Menag dan tokoh-tokoh lain. Subhanallah... dalam balutan busana serba putih, yang merupakan manifestasi simbol kebersihan dan kesucian, dalam diri belio tanpa gentar, tanpa ragu, lantang meluapkan ekspresi penuh takjub denganumpatanungkapan "Cuk" dalam atmosfir peringatan Maulidul Rasul Muhammad Saw., yang tentu saja semakin menambah khidmat suasana.
Terlebih, kehadiran belio dan jutaan umat berjubel dalam forum itu murni atas kesadaran sebagai muslim, bukan faktor paksaan, bukan imingan uang (bayaran), bukan giringan politik. Sekali lagi MURNI KESADARAN sebagai muslim. Tentu, bagi mereka yang tidak hadir, kesadarannya sebagai muslim masih tersumpal kegelapan dan jauh dari ketercerahan. Lagi-lagi Gus Nur sukses membuat tuna asmara terpukau. Emejing...!
Saudara sekalian.
Malam ini minggu malam, sekaligus malam penghabisan 2017. Belajar dari Gus Nur, ada sedikitnya 3 poin untuk permenungan bersama dalam rangka refleksi menuju 2018 dengan senyum merona.
Pertama. Mengenalkan diri dengan membubuhkan Gelar pada nama; Gus, Kanjeng, Lorah, Ajengan, Paduka, dst merupakan keniscayaan. Ini penting, satu misal Sugi Nur Raharja jadi Gus Nur, Dwi Yanto jadi Gus Dwi, Mukti Aziz jadi Kanjeng Mukti, Aris Lukman Hakim jadi Tengku Lukman dan lain semisalnya. Ini sangat praktis, untuk mencobanya bisa sebagai langkah awal diterapkan pada akun-akun Medsosmu, dalam hitungan menit saja kamu akan merasakan perubahan signifikan.
Kedua. Tingkatkan percaya diri semaksimal mungkin, apapun kondisimu. Nah, Ini sudah diterapkan banyak orang, dan meraup apresiasi cemerlang. Bagaimana tidak, pengakuan yang gamblang terkait ketidak-mampuan membaca kitab, misal namun dilandasi kepercayaan diri maksimal, toh bisa sukses sebagaimana Gus Nur di atas, diundang mengisi pengajian di berbagai tempat.
Ketiga. Membiasakan diri misuh atau mengumpat di tiap kesempatan. Ini juga peting, sebagai penanda kejantanan seorang lelaki. Pilihlah kata atau kalimat misuh terbaik yang kamu kuasai. Tahap terakhir ini butuh latihan ekstra, sebab tidak sedikit orang yang selip lidahnya saat mengawali misuh, karenanya hukum bacaan dan makhorijul huruf dalam misuh harus betul-betul diperhatikan, sebab kalimah misuh yang fals akan terdengar sebagai gurau belaka, tidak serius, hambar, dan cenderung absurd. Tentu, perempuan tidak menyukai karakter semacam ini.
Demikian renungan akhir tahun ini. Semoga Berkah. Selamat mengakhiri 2017. Dan, jangan sepaneng, enggeh Gus.!

EmoticonEmoticon