Maka sudah menjadi hukum mutlak apabila "pereaksi-pereaksi" bertemu (beraksi), menghasilkan anak dengan istilah "produk reaksi". Dalam arti, reaktan-reaktan (nama samaran pereaksi) yang bereaksi, selalu akan membentuk satu jenis zat baru yang berbeda dari sifat sebelumnya. Demikianlah Firman Al-Kimia dalam kitab suci kelas Sepuluh Es-Em-A.
Munculnya satu produk reaksi merupakan hasil dari zat-zat pereaksi yang saling beraksi dalam waktu, bentuk dan model tertentu. Semisal, Reaksi antara gula dengan air yang menghasilkan sirup gula, adalah bukti dari kebenaran firman tersebut.
Lantas bagaimana hukum ini dikembangkan dalam bidang ilmu pengetahuan lain?
Mari kita tengok beberapa contoh berikut.
Das Kapital Marx adalah sekian dari contoh jawabannya. Pemikiran dalam buku ini jelas menunjukan keterpengaruhannya atas teori tersebut. Marx berpendapat, bahwa jika kaum Proletar terus mendapat eksploitasi oleh Borjuasi, maka negara selanjutnya akan mengalami krisis berkepanjangan. Dengan demikian, Kaum Proletar harus melakukan revolusi agar terjadi kesetaraan dan kesejahteraan. Sehingga tidak akan pernah terjadi krisis sebagaimana diramalkan.
Persamaan yang paling mencolok dalam teori tersebut adalah sebagaimana berikut. Mari kita asumsikan Proletar (sebagai reaktan 1) bereaksi dengan Borjuasi (sebagai rekatan 2), jika Borjuasi lebih mendominasi maka krisis panjang dan penindasan merupakan hasil reaksinya. Namun, jika Proletar mampu melakukan revolusi, maka kesetaraan dan kesejahteraan adalah hasilnya.
Satu pengembangan lain dari teori tersebut adalah ujaran dari jomblo imajinatif "cantik banget sih dia, anaknya siapa, ya? buatnya malam apa siang? Proses bikinnya dengan cara dan model bagaimana, ya?". Ini adalah contoh riil imajinasi uji coba penguraian zat pembentuk si cantik, beserta waktu, cara dan model reaksinya.
Dua contoh tersebut dapat dipastikan mengikuti corak pemikiran teori Al-Kimia.
Masih kurang?
![]() |
| source: duniapixie.blogspot.co.id |
Lomonosov (1711-1765) dan Lavoisier (1743-1794) adalah yang mula-mula menafsiri firman tersebut, dengan memunculkan Kitab Hukum Kekekalan Massa. Adapun bunyi sabdanya kira-kira demikian "jika pereaksi bereaksi dalam sistem tertutup, massa zat sebelum reaksi dan setelah reaksi adalah sama". Sabda inilah yang selanjutnya diterjemahkan oleh Makelar Kasus diberbagai kesempatan dan dalam tiap generasi dengan keluarnya fatwa "jika dia dapat bagian, saya tahu, maka saya harus mendapat bagian pula". Adanya semacam hukum tutup mulut yang fardhu ain untuk dibayarkan. Atau dalam kasus lain yang sejenis, seperti "jika proyek Anda ingin berjalan dengan lancar, maka tolong sediakan jatah preman segini, ya!".
Tidak berhenti disitu, firman Hukum Reaksi juga ditafsiri oleh Joseph Proust (1754-1826), dengan lahirnya aliran Hukum Perbandingan Tetap. Aliran ini memiliki keyakinan bahwa “Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa adalah tertentu dan tetap". Ini lah yang menjadi peletak dasar tukang palak dalam merumuskan hukum "kasus dan pelanggaran Anda adalah ini dan itu, jika Anda tidak mau sidang, maka sekian lah jumlahnya, hasilnya adalah kasus anda akan ditutup!".
Demikianlah contoh-contoh nyata bahwa Al-Kimia adalah Induk dari segala pengetahuan. Melahirkan berbagai macam bid'ah dan kesesatan baru. Maka apakah ini tidak membuatmu beriman kepadanya? Jika jawabanya tidak. Mari saya tunjukan kebenaran beberapa bukti lain dari teori tersebut.
Munculnya Aliran Sesat Al-Kimia di Era Milenial
Munculnya gambar orang membawa TV dengan tulisan "INI ADALAH TV SERVISAN BUKAN CURIAN" hingga yang paling Ekstrim "INI ADALAH ISTRI SAH BUKAN ISTRI TETANGGA" adalah sekian hasil dari pemikiran genius satu reaktan yang bereaksi dengan macam macam reaktan.
Bayangkan saja, sebuah hasil reaksi tak terduga, pernah terjadi dari kasus Tukang Service Amplifier sebut saja JOYA. Dia dibakar karena bertemu dengan reaktan yang bercampur kekejaman dan kebiadaban.
Belajar dari hasil reaksi tersebut, beberapa orang semakin berpengetahuan, bahwa saat ini manusia banyak yang sudah bereaksi dengan kebodohan, kekejaman, ketidak-pedulian, dan keangkuhan. Alhasil, demi mengatasi zat-zat tersebut, munculah zat penetral dengan Label "ini barang servisan bukan curian". Sebuah solusi cerdas sekelas pegadaian dengan slogannya "mengatasi masalah tanpa masalah".
Satu lagi bukti yang mengukuhkan bahwa Al-Kimia adalah Cabang dari segala Ilmu.
Apakah anda masih tidak beriman?

EmoticonEmoticon