Kamis, 10 Agustus 2017

Agama sebagai Alat Tipu

Tags

Beberapa bulan terakhir, persoalan seputar agama menjadi topik hangat di berbagai media baik lokal maupun nasional. Persoalan tersebut berkaitan dengan perilaku umat beragama itu sendiri ketika dihubungkan dengan aspek sosial, politik dan bahkan kriminalitas yang telah terjadi.
Kekerasan yang mendeterminasi kelompok Ahmadiyah di Pandeglang, bom buku, gereja dan di Mapolresta Cirebon, menggambarkan bahwa agama memiliki kedekatan hubungan atas berbagai kejadian tersebut. Terakhir, masuknya beberapa mahasiswa UMM menjadi korban brain washing kelompok NII (Negara Islam Indonesia), mengungkapkan fakta bahwa cita-cita suci yang dicitrakan NII sanggup menggerakkan kobannya untuk melakukan apapun, termasuk penipuan.
Persoalannya, apakah agama yang seharusnya mengajarkan pemeluknya untuk menghindari tindak kekerasan dan kejahatan, malah menjadi alasan utama untuk melegalkan tindakan tersebut?

source: nusantaranews.co

Peralihan Motif Keberagamaan
Pengakuan Agung Perdana Putra, salah satu mahasiswa UMM yang menjadi korban brain washing NII menunjukkan bahwa ada perubahan orientasi dirinya ketika sebelum dan setelah terkena pengaruh kelompok NII (Jawa Pos, 26 April 2011). Agung yang sebelumnya menjadi mahasiswa baik-baik dengan keinginan seperti halnya mahasiswa lain untuk dapat menempuh studi di kampus sebagai bagian dari upaya menggapai cita-cita, berubah sampai sukarela melakukan “kebohongan” pada orang tuanya.

Dalam kajian fenomenologi, ada motif yang perilaku manusia dalam menjalankan aktifitasnya. Jadi, tiap perilaku yang dihasilkan merupakan manifestasi dari dorongan internal dalam diri seseorang akan sesuatu yang walaupun bersifat abstrak, namun dorongan itu seakan-akan menjadi realitas nyata dalam benaknya. Setidaknya, menurut Alferd Schutz selain motif tujuan (in order to motive), juga ada motif sebab (because motive) dalam tiap tindakan.

Kebenaran motif tujuan yang diniatkan Agung sebelum direkrut oleh NII dapat digantikan dengan kebenaran motif lain dari luar dirinya. Kesadaran internal dari ide dan pemikiran oleh cuci otak ala NII digantikan dengan kesadaran eksternal dan “kebenaran subyektif” yang harus dijalankan. Kesadaran eksternal dan “kebenaran subyektif” yang diinternalisasikan kelompok NII ini mampu masuk ke kalangan mahasiswa secara rasional sebab proses cuci otak yang dilakukan juga mengungkap fakta yang empiris-rasional dari realitas “jahiliyah modern”.

Kebenaran tersebut bukan hanya menjadi bagian dari ide yang abstrak (ma’qulun bi iradat al-‘aql), namun juga mampu menjelaskan dan memasuki ruang kebenaran empiris (ma’qulun bi iradat al-hal) yang ada di benak korban. Berakhirlah pencucian otak tersebut pada kerelaan korban untuk mengikuti pembaiatan dan melakukan kebohongan pada keluarganya sendiri. Pada situasi ini maka telah terjadi peralihan motif yang mendasari tindakan manusia korban cuci otak NII tersebut.

NII Bukan Agama
Agama adalah sebuah tuntunan yang dapat mengarahkan pemeluknya untuk menggapai keselamatan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Keselamatan tersebut dapat diraih dengan maksimal ketika pemeluk agama itu meyakini kebenaran doktrin teologis (tauhid), sekaligus berupaya melaksanakan perintah dan larangan yang disyariatkan oleh agama yang diyakininya. Selain itu, agama juga memiliki mekanisme etis yang mengatur kepantasan perilaku seseorang (akhak) kepada Tuhan, manusia, dan alam di sekitarnya.

Asumsi yang menyatakan bahwa NII sama dengan agama, khususnya Islam, merupakan pendapat yang tidak dapat dibenarkan. Hal ini bertolak dari orientasi yang ditegaskan oleh keduanya berbeda. Islam berorientasi pada keselamatan pemeluknya baik di dunia maupun akhirat, sedangkan NII berorientasi pada pembentukan Negara Islam di Indonesia.

Semangat rahmatan lil ‘alamin dari Islam dapat menjelma dalam tiap subyek, keadaan dan persoalan kehidupan tanpa harus merubah bentuk formalitas kehidupan itu sendiri. Itulah kelebihan yang mampu ditawarkan Islam sebagai agama monotheisme yang terakhir. Berbeda dengan Islam, NII mendasarkan doktrin gerakannya pada asumsi bahwa la hukma ila lillah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Penerapan hukum Allah itu semata-mata akan dapat diimplementasikan secara nyata jika ada dukungan dari politik dan kekuasaan. Maka mendirikan negara Islam adalah bagian penting dari keimanan.

Pada masa kontemporer, walaupun tidak sepenuhnya sama, polarisasi berbagai kelompok NII juga identik dengan komunitas Salafiyah Jihadiyyah (Salafisme Jihadis). Kemiripan tersebut terletak pada kesepakatan keduanya pada realitas jahiliyah modern yang saat ini sedang terjadi dan cenderung dilegalkan oleh penguasa zalim (taghut). Selain itu, keduanya juga sepakat bahwa untuk dapat menghilangkan kehidupan jahiliyah seperti ini, diperlukan jihad ofensif dengan kekuatan yang dimiliki dan dengan cara apapun.

Kemunculan NII ini mirip dengan sekte Khawarij dalam khazanah pemikiran dan gerakan Islam klasik dimana doktrin manhajul al-fikr (metode pemikiran) dan manhaj al-harakah (metode gerakan) keduanya juga bertumpu pada doktrin la hukma illa lillah. Seperti diketahui, kelompok Khawarij inilah yang menganggap legal upaya pembunuhan terhadap Ali bin Abi Thalib, Muawwiyah bin Abi Sufyan dan Amr bin Ash, walaupun sejarah mencatat bahwa hanya Ali bin Abi Thalib yang terbunuh oleh Ibnu Muljam. Maka tidak salah jika ada yang menyebut bahwa NII merupakan fenomena kemunculan Neo-Khawarij di Indonesia. Tapi itupun tidak menegaskan bahwa mereka adalah representasi Islam secara otentik dan genuine.

Upaya menekan gerakan-gerakan seperti ini secara formal harus dilakukan oleh negara dengan segenap perangkatnya secara tegas, bukan oleh yang lainnya. Hal ini disebabkan negara memiliki kemampuan resources untuk melakukan hal itu. Patut diwaspadi juga bahwa gerakan seperti ini akan dapat bermetaforsosis dalam berbagai bentuk dan modus, sehingga para orang tua dan remaja harus pandai-pandai beragama dengan baik dan benar sesuai dengan Rasulullah beragama agar tidak tertipu dan menjadi “penipu” yang mengatasnamakan agama.

Artikel dimuat di rubrik Opini Jawa Pos. Jumat, 29 April 2011


EmoticonEmoticon