Ramadlan selalu menampilkan keunikan tersendiri bagi siapapun juga. Di kalangan umat Islam sendiri, ramadlan selalu memiliki makna berbeda di masing-masing hati tiap manusia. Dari yang paling terlihat “serius” beribadah, “bergaya” serius, sampai yang tidak terpaut setitik debupun hatinya dengan ramadlan, juga pasti akan memiliki sense of belonging ketika nanti merayakan lebaran. Tapi itu semua bukan urusan saya, karena saya punya asa yang lebih penting daripada cermati urusan orang lain.
Tahun ini merupakan ramadlan yang bukan kali pertama bagi “keislaman” saya. Lebih dari belasan tahun, momentum ramadlan dan lebaran telah datang silih berganti dengan sekian banyak variasi keunikannya. Namun, di akhir ramadlan tahun ini ada kegelisahan tersendiri yang muncul tanpa diinginkan. Sesekali ada upaya menepis kegelisahan tersebut, tapi terus datang dan datang lagi.
Lebaran tahun ini akan menjadi lebaran kali pertama dimana bapak mertua saya –allahu yarhamuh– tidak berada di tengah-tengah kami. Walaupun lebaran belum tiba, namun “rasa berbeda” itu telah menyeruak dalam dada saya. Mungkin putra-putri dan extended family beliau jauh lebih merasa “berbeda” dibanding saya.
Menurut sebagian tetangga, bapak mertua mendapat discount umur dari Tuhan. Memang beliau sudah sakit dua tahun kemarin dan sempat agak parah. Tapi Alhamdulillah diberi kesembuhan dan tahun lalu masih merayakan lebaran bersama-sama kita. Beberapa bulan kemudian beliau sakit lagi sampai meninggal. Subhanallah….
Sejenak kemudian…. Sekonyong-konyong, terpikir pertanyaan akankah ramadlan akan menemui dan menyapa kehidupan ini? Akankah Allah akan memberikan kesempatan untuk kesekian kalinya agar dapat beribadah dalam nikmatnya ramadlan seperti ini lagi? Oh bilakah ramadlan tahun ini hanya menjadi sins dalam drama keimanan yang sengaja kubuat-buat di hadapan manusia, tapi tidak di hadapan Allah?
Bagaimana mutu syahadatku ? Akankah sebait singkat takbir al ihram dalam shalatku selama ramadlan ini kosong dari permusyahadahan kekuasaanMu tuhanku? Akankah semangat pertemuan denganMu dalam shalatku saat ramadlan ini jauh lebih hampa daripada semangatku ketika bertemu dengan kekasihku? Tidak layak aku berharap mampu tinggalkan fahsya’ dan mungkar dengan kualitas sembahyang seperti itu.
Akankah puasaku ini berarti ibadah bila barang syubhat dan tindakan musrifin masih tetap istiqomah kugandrungi? Akankah zakat akan menjadi penyuci rizqi yang Engkau titipkan padaku, padahal ketika berzakat aku masih menghitung-hitung jumlah dan jauh dalam hati ini ada benih “eman” atasnya? Hamba malu padaMu Tuhan. Akankah kesempatan ini datang kembali?
Dengan segenap kekurangan, dosa, kebathilan dan kemungkaran ini, perkenankan hamba meminta sedikit izin dan ridlomu agar hamba dapat bertemu ramadlan kembali dalam naungan rahmat serta maghfirahMu. Dengan ibadah yang tidak dapat dibanggakan ini, jadikanlah bulan-bulan lain layaknya ramadlan bagiku. Perbaikilah diriku agar dapat lebih baik menyambut ramadlan di tahun-tahun mendatang. Ampunilah dosa orang tua, sesepuh dan guru-guruku serta kasihinilah mereka dengan lautan rahmat-Mu. Perkenankan Tuhan, matur nuwun.
Tahun ini merupakan ramadlan yang bukan kali pertama bagi “keislaman” saya. Lebih dari belasan tahun, momentum ramadlan dan lebaran telah datang silih berganti dengan sekian banyak variasi keunikannya. Namun, di akhir ramadlan tahun ini ada kegelisahan tersendiri yang muncul tanpa diinginkan. Sesekali ada upaya menepis kegelisahan tersebut, tapi terus datang dan datang lagi.
![]() |
| source: fotodakwah.com |
Lebaran tahun ini akan menjadi lebaran kali pertama dimana bapak mertua saya –allahu yarhamuh– tidak berada di tengah-tengah kami. Walaupun lebaran belum tiba, namun “rasa berbeda” itu telah menyeruak dalam dada saya. Mungkin putra-putri dan extended family beliau jauh lebih merasa “berbeda” dibanding saya.
Menurut sebagian tetangga, bapak mertua mendapat discount umur dari Tuhan. Memang beliau sudah sakit dua tahun kemarin dan sempat agak parah. Tapi Alhamdulillah diberi kesembuhan dan tahun lalu masih merayakan lebaran bersama-sama kita. Beberapa bulan kemudian beliau sakit lagi sampai meninggal. Subhanallah….
Sejenak kemudian…. Sekonyong-konyong, terpikir pertanyaan akankah ramadlan akan menemui dan menyapa kehidupan ini? Akankah Allah akan memberikan kesempatan untuk kesekian kalinya agar dapat beribadah dalam nikmatnya ramadlan seperti ini lagi? Oh bilakah ramadlan tahun ini hanya menjadi sins dalam drama keimanan yang sengaja kubuat-buat di hadapan manusia, tapi tidak di hadapan Allah?
Bagaimana mutu syahadatku ? Akankah sebait singkat takbir al ihram dalam shalatku selama ramadlan ini kosong dari permusyahadahan kekuasaanMu tuhanku? Akankah semangat pertemuan denganMu dalam shalatku saat ramadlan ini jauh lebih hampa daripada semangatku ketika bertemu dengan kekasihku? Tidak layak aku berharap mampu tinggalkan fahsya’ dan mungkar dengan kualitas sembahyang seperti itu.
Akankah puasaku ini berarti ibadah bila barang syubhat dan tindakan musrifin masih tetap istiqomah kugandrungi? Akankah zakat akan menjadi penyuci rizqi yang Engkau titipkan padaku, padahal ketika berzakat aku masih menghitung-hitung jumlah dan jauh dalam hati ini ada benih “eman” atasnya? Hamba malu padaMu Tuhan. Akankah kesempatan ini datang kembali?
Dengan segenap kekurangan, dosa, kebathilan dan kemungkaran ini, perkenankan hamba meminta sedikit izin dan ridlomu agar hamba dapat bertemu ramadlan kembali dalam naungan rahmat serta maghfirahMu. Dengan ibadah yang tidak dapat dibanggakan ini, jadikanlah bulan-bulan lain layaknya ramadlan bagiku. Perbaikilah diriku agar dapat lebih baik menyambut ramadlan di tahun-tahun mendatang. Ampunilah dosa orang tua, sesepuh dan guru-guruku serta kasihinilah mereka dengan lautan rahmat-Mu. Perkenankan Tuhan, matur nuwun.

EmoticonEmoticon