Risma (sapaan Tri Rismahariani) sendiri adalah figur yang memang sudah lama dikenal masyarakat Surabaya sebagai sosok yang “banyak kerja, tidak banyak berbicara”. Sentuhan kerja kerasnya ketika masih menjabat kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan telah menghasilkan hamparan taman kota yang tidak hanya menjadikan Surabaya cantik, tetapi juga menjadi arena untuk bercengkarama bersama keluarga.
Surabaya yang sudah cantik akan semakin cantik apabila mampu menjadikan penduduknya sebagai manusia-manusia produktif dan berkualitas. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, duet Tri Rismahariani-Bambang DH sudah semestinya berpikir untuk melakukan investasi terhadap sektor kesehatan. Sebab bagaimanapun produktivitas dan kualitas seseorang tidak lepas dari kesehatan, meminjam pepatah Arab Al-aqlu salim, fi jismi salim (akal yang sehat ada di dalam raga yang sehat).
Mitologi Yunani
Dalam mitologi Yunani terdapat tokoh yang bernama Asclepius dan Higeia. Disebutkan, Asclepius adalah dokter pertama yang mampu mengobati penyakit. Sedang Higeia adalah asistennya sekaligus isterinya yang juga mampu melakukan upaya-upaya kesehatan. Asclepius maupun Higeia memiliki sudut pandang yang berbeda dalam penanganan masalah kesehatan. Asclepius melakukan pengobatan penyakit, setelah penyakit tersebut terjadi pada seseorang. Sedangkan Higeia melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit sebelum terjadinya penyakit.
Cerita mitologi tersebut mengantarkan kepada jenis pelayanan kesehatan yang disebut kuratif (curative health care) dan preventif (preventive health care). Jenis pelayanan kuratif yang disadur dari Asclepius cenderung bersifat pasif-reaktif, yakni hanya menunggu dan bertindak untuk menyelesaikan masalah yang datang. Misalnya, dokter menunggu pasien datang ke rumah sakit atau puskesmas. Berbeda dengan kuratif, jenis pelayanan preventif yang disarikan dari Higeia lebih mengutamakan pendekatan pro-aktif, yakni upaya pencegahan timbulnya masalah dengan mencari dan mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat, dan melakukan tindakan.
Di Surabaya, jika dilihat dari jenis pelayanan kesehatan jenis kuratif tidak dipungkiri tersedia infrastruktur yang cukup memadai. Bahkan, ada kebanggaan tersendiri saat ini ketika Surabaya telah menempatkan diri sebagai Pusat Tranplantasi Organ Liver (Liver Transplant Center) pertama di Indonesia. Akan tetapi, semua itu tidak memberikan jaminan jika aksesnya dapat diperoleh dengan mudah.
![]() |
| source: kesehatanlingkunganhidup.blogspot.com |
Sebab, hal yang umum, pola kesehatan di Indonesia telah mengarah pada liberalisasi dan berujung pada komersialilasi. Akibatnya, biaya berobat menjadi sangat mahal. Kalau toh ada jaminan kesehatan yang diberikan kepada orang yang tidak mampu berobat melalui program askeskin, keyataan di lapangan tidaklah efektif. Banyak pasien miskin ditolak oleh pihak rumah sakit dengan alasan biaya dan prosedur askeskin yang rumit.
Berkaca akan hal tersebut, kini saatnya pejabat yang memimpin Surabaya mengayunkan langkahnya guna menyusun program kesehatan yang visinya “mencegah lebih baik dari pada mengobati”. Untuk itu, perlu dibangun infrastruktur kesehatan preventif, yakni menghadirkan infrastruktur atau sarana yang dapat mencegah timbulnya penyakit.
Ketika berbicara infrastruktur preventif, harus diakui hadirnya beberapa taman di Surabaya tidak saja mempercantik kota Surabaya, dilihat dari kacamata kesehatan, kehadirannya juga bermanfaat sebagai paru-paru kota yang dapat berfungsi menciptakan udara segar. Hanya, usaha menghadirkan infrastruktur preventif tidak boleh berhenti sebatas pada taman kota. Lebih jauh, infrastruktur yang berkaitan dengan sanitasi lingkungan harus menjadi prioritas terutama di daerah penduduk padat atau dikampung-kampung.
Dalam hal itu, kita harus belajar dari penjajah Belanda (pemerintahan Batavia) terkait visi dalam bidang kesehatan rakyat. Sejak awal pemerintahan Batavia menyusun program kesehatan yang lebih ditekankan pada infrastruktrur sanitasi lingkungan. Program-programnya waktu itu adalah meliputi saluran-saluran di pasar, penyediaan minum kuda delman, pemeriksaan susu yang dijual di dalam botol, dll. Dengan program itulah penduduk Indonesia saat itu dapat berproduksi dengan baik meski komoditas-komoditas yang dihasilkan menjadi milik penjajah Belanda.
Tentu saja, pembelajaran yang disadur dari visi kesehatan penjajah Belanda perlu re-aktulisasi yang kontekstual dengan harapan berkesesuaian dengan kondisi Surabaya saat ini. Akhirnya, semua kembali pada duet Tri Rismahariani-Bambang DH untuk melirik program infratruktur kesehatan preventif atau tidak. Yang pasti setiap proses yang berkaitan dengan infrastruktur preventif kesehatan akan menentukan esensi kualitas SDM Surabaya yang akan datang.
*Dimuat di koran harian Jawa Pos (sabtu/19/juni/2010)

EmoticonEmoticon